Analisis Wujud Kebudayaan terhadap Pergeseran Nilai Tradisi Mome'ati Gorontalo dalam Kondisi Postmodern guna Mencegah Hilangnya Makna Esensial Ritual
Tradisi Mome’ati merupakan ritual adat pembaiatan bagi remaja perempuan Muslim Gorontalo yang menandai peralihan menuju fase baligh yang terus dilestarikan secara institusional, namun pelestarian tersebut cenderung menekankan dimensi seremonial sehingga fungsi aslinya sebagai institusi pendidikan moral-religius berisiko tidak terwariskan. Kajian ini bertujuan menganalisis sejauh mana dan melalui mekanisme apa nilai serta makna dalam tradisi Mome’ati mengalami pergeseran dalam kondisi sosial kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi pustaka untuk rentang 2012–2026, dianalisis dengan teknik analisis isi kualitatif dan pembacaan hermeneutik-interpretatif. Kerangka wujud kebudayaan Koentjaraningrat digunakan sebagai kerangka utama dan dilengkapi tiga tesis tentang kondisi postmodern, yakni The Postmodern Condition (Lyotard), The Transformation of Intimacy (Giddens), dan Liquid Modernity (Bauman). Sebagai proposisi konseptual yang diturunkan secara deduktif dari teori, dan bukan sebagai temuan lapangan. Kajian ini mengajukan tesis disintegrasi internal tradisi: wujud artefak dan wujud aktivitas Mome’ati terpelihara dengan baik, sementara wujud sistem gagasan berisiko melemah melalui lima mekanisme, yaitu relativisasi nilai sakral, seremonialisasi adat, fragmentasi makna antargenerasi, komodifikasi budaya, dan pelemahan otoritas transmitter. Secara praktis, kajian ini merekomendasikan agar Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mewajibkan sesi pembekalan nilai pra-prosesi serta instrumen evaluasi pemahaman peserta pada setiap penyelenggaraan Mome’ati massal, dan agar lembaga adat menyusun panduan pengajaran baku bagi pemangku adat. Tesis ini terbuka untuk diuji melalui riset etnografis lanjutan.