Aug 2026· Jurnal Pendidikan Tambusai· Vol 10, pp. 23015-23019· 0 citations· 8 references
Abstract
Perkembangan teknologi di era digital membawa disrupsi besar yang tidak hanya mengubah tatanan sosial tetapi, juga menantang nilai-nilai moral dan keagamaan. Di Tengah arus modernitas ini, tradisi epistimologi keilmuan Ahlussunnah wal jama’ah (ASWAJA) yang berbasis pada moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan keadilan (I’tidal) sering kali dianggap trasional dan terpisah dari kemajuan eksternal. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-filosofis. Data dikumpulkan dari berbagai literatur primer da sekunder terkait epistimologi ASWAJA, filsafat ilmu, dan sosiologi teknologi yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis isi dan komparatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa epistimologi ASWAJA memiliki relevansi yang sangat kuat dan kontekstual terhadap perkembangan teknologi. Integrasi antara dalil naqly dan aqly dalam tradisi ASWAJA mampu melahirkan kerangka etis bioetika dan tekno etika yang memadu pemanfaatan teknologi agar tetap mashlahat tidak destruktif. Prinsip al-muhafadzah ‘ala qodimi shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (merawat tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi yang lebih baik) menjadi fondasi teologis filosofis yang adaptif. Dengan demikian tradisi ASWAJA tidak menolak teknologi melainkan bertindak sebagai Kompas moral dan filter kritis agar disrupsi teknologi dapat diarahkan demi kesejahteraan kemanusiaan.
Fenomena pacaran di kalangan pemuda Muslim dewasa ini menunjukkan kecenderungan meningkat seiring dengan arus globalisasi dan perubahan pola interaksi sosial. Praktik tersebut seringkali dipandang sebagai hal yang lumrah, meskipun dalam perspektif ajaran Islam memiliki potensi besar mengarah pada perbuatan yang dilaran...
Muhammad Luthfi Sulaeman, Muhammad Fahmi Hanief, Muhammad Zakariya et al.· QANUN: Journal of Islamic La...· 0 citations
Perdebatan klasik antara nativisme yang menekankan potensi bawaan dan empirisme yang mengedepankan pengaruh lingkungan terus membentuk wacana pendidikan modern. Meskipun teori konvergensi dan konsep fitrah dalam Pendidikan Islam sama-sama mengakui interaksi kedua faktor, keduanya seringkali dibahas secara terpisah atau...
Penelitian ini mengkaji kedudukan fitnah sebagai penghalang kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) melalui perspektif Maqashid Syariah. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan studi kepustakaan terhadap Al-Qur’an, hadis, kitab fikih klasik dan kontemporer, fatwa ulama, peraturan perundang-un...
Mustamar Hasibuan, M. Hasibuan· Jurnal Pendidikan Tambusai· 0 citations
Budaya Tulude merupakan warisan budaya masyarakat Kepulauan Sangihe yang mengandung nilai spiritual dan sosial sehingga memerlukan pembacaan melalui teologi kontekstual agar gereja mampu menghindari sikap menerima ataupun menolak budaya secara ekstrem. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi nilai-nilai Tulude berdasar...
Ochtavianus Sambu, Yudha Nata Saputra· Journal of Citizenship· 0 citations
Fenomena death of expertise (matinya kepakaran) menjadi tantangan epistemologis pada era digital yang ditandai dengan melemahnya otoritas pakar akibat kaburnya batas antara pengetahuan berbasis keahlian dan opini publik. Meskipun fenomena ini telah banyak dikaji dalam perspektif sosial, kajian yang meninjaunya melalui...
Mochamed Khan, U. Muhaemin· Journal of Ulumul Qur an and...· 0 citations
Integrasi Baitul Hikmah Digital dan teknik reading with purpose di madrasah non-unggulan merupakan manifestasi nyata dari upaya membumikan pemikiran Buya Syafii Maarif mengenai keadilan epistemologis dan teologi pembebasan. Reaktualisasi gagasan "Islam Kemanusiaan" yang diperjuangkan Buya tidak lagi bersifat normatif,...
Putri Wulansari· MAARIF· 0 citations
We use cookies to run the site and, with your consent, for analytics and to show ads.
See our Cookie Policy.