Minority Discourse in Abdurrahman Wahid’s Thought: A Critical Discourse Analysis of Tabayun Gus Dur from an Islamic Communication Perspective
Abstract
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis wacana kritis pemikiran Abdurrahman Wahid tentang kelompok minoritas dalam perspektif Komunikasi Islam melalui buku Tabayun Gus Dur: Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data primer berasal dari teks buku tersebut, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, artikel jurnal, dan literatur relevan. Analisis mengintegrasikan kerangka Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk dan Norman Fairclough. Van Dijk digunakan untuk mengkaji struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro, sedangkan Fairclough menganalisis praktik diskursif dan sosiokultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana minoritas dibangun melalui nilai pluralisme, kesetaraan, toleransi, kebebasan, penghormatan terhadap keberagaman, dan perlindungan hak minoritas. Wacana tersebut disampaikan secara argumentatif, kritis, dialogis, komunikatif, dan inklusif, serta mengkritik diskriminasi, stereotip, eksklusivisme, intoleransi, dan dominasi kekuasaan. Dalam perspektif Komunikasi Islam, pemikiran Abdurrahman Wahid berkaitan dengan prinsip tabayyun, qaulan sadīdan, qaulan ma‘rūfan, qaulan ma‘rūfan, qaulan balīghan, qaulan karīman, dan qaulan maysūran secara konsisten kuat. Abstract: This qualitative library study examines minority discourse in Abdurrahman Wahid’s Tabayun Gus Dur: Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural from an Islamic communication perspective. The book provides primary data, supplemented by relevant books, journal articles and other literature. The analysis combines Van Dijk’s macrostructure, superstructure and microstructure with Fairclough’s discursive and sociocultural practices. The findings show that minority discourse centres on pluralism, equality, tolerance, freedom, respect for diversity and minority rights. Its argumentative, critical, dialogical and inclusive style challenges discrimination, stereotypes, exclusivism, intolerance and domination. The discourse reflects tabayyun, qaulan sadīdan, qaulan ma‘rūfan, qaulan ma‘rūfan, qaulan balīghan, qaulan karīman and qaulan maysūran.