Edukasi Deteksi Dini Dan Pencegahan Penularan Tuberkulosis Berbasis Epidemiologi
Abstract
Latar Belakang: Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat penyakit infeksi tertinggi di dunia, dengan Indonesia menempati peringkat kedua beban kasus TBC terbesar. Rendahnya literasi masyarakat mengenai epidemiologi TBC, disertai anggapan keliru bahwa TBC merupakan penyakit keturunan atau kutukan, menyebabkan gejala awal sering diabaikan sehingga deteksi kasus menjadi terlambat. Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai epidemiologi TBC, meluruskan stigma dan miskonsepsi mengenai TBC, serta melatih keterampilan skrining gejala secara mandiri sebagai upaya mendukung deteksi dini dan pencegahan penularan TBC. Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui ceramah interaktif, demonstrasi, dan redemonstrasi, yang dilakukan dalam lima tahap yaitu persiapan, sosialisasi dan pendekatan mitra, edukasi, pelatihan dan simulasi skrining mandiri, serta evaluasi. Kegiatan dilaksanakan pada 18–23 Juni 2026 di Dg. Kuling RT 003 RW 004, Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, dengan jumlah peserta 15 orang. Hasil: Nilai rata-rata pengetahuan mengenai epidemiologi TBC meningkat dari 50 pada pretest menjadi 90 pada posttest, atau meningkat 40 poin, dengan capaian keseluruhan 88% dari target ≥80%. Peserta juga menunjukkan perubahan persepsi, tidak lagi menganggap TBC sebagai penyakit keturunan atau kutukan, dan 100% peserta memahami pentingnya pengobatan tuntas serta pencegahan penularan di rumah tangga. Pada pelatihan keterampilan skrining mandiri, 80% peserta mampu mengisi dan menginterpretasikan ceklis skrining gejala dengan tepat, sedangkan 100% peserta mampu mempraktikkan etika batuk dan memahami ventilasi rumah sebagai upaya pencegahan. Kesimpulan: Edukasi berbasis epidemiologi yang dipadukan dengan pelatihan skrining mandiri secara langsung efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat, meluruskan stigma dan miskonsepsi, serta membangun keterampilan deteksi dini TBC secara mandiri, sehingga mendukung target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030.