Skip to content
Open access

Peran Konseling Pastoral dalam Memulihkan Cinta Diri Pasca Pengalaman Penolakan dan Kegagalan Relasi

Aug 2026 · Jurnal Teologi Pambelum · 0 citations

Abstract

Peran konseling pastoral dalam memulihkan cinta diri setelah pengalaman penolakan dan kegagalan relasi menjadi sangat penting di tengah krisis identitas dan persoalan kesehatan mental masa kini. Pengalaman ditolak, dikhianati, atau mengalami perpisahan kerap menimbulkan luka batin yang berdampak pada harga diri, citra diri, serta kualitas relasi seseorang dengan Allah dan sesama. Penelitian ini bertujuan mengkaji kontribusi konseling pastoral dalam membangun kembali pemahaman diri yang terluka melalui pendekatan teologis-antropologis yang menegaskan martabat manusia sebagai imago Dei. Dengan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi literatur, tulisan ini menegaskan bahwa pemulihan cinta diri berlangsung melalui integrasi refleksi iman, penerimaan tanpa syarat, dan pendampingan empatik yang membuka ruang rekonsiliasi batin dan spiritual, sehingga pengalaman kegagalan tidak lagi dimaknai sebagai hilangnya nilai diri, melainkan sebagai bagian dari proses pertumbuhan eksistensial yang menuntun pada keutuhan pribadi dan relasi yang lebih sehat. Analisis dilakukan melalui sintesis tematik terhadap literatur teologi pastoral, psikologi, dan antropologi teologis menggunakan kerangka fungsi pastoral Howard Clinebell yang meliputi healing, sustaining, guiding, dan reconciling. Melalui proses komparasi dan interpretasi kritis, penelitian menunjukkan bahwa pemulihan cinta diri terbentuk secara integratif melalui pendampingan pastoral yang berpusat pada martabat manusia sebagai imago Dei.

Read PDF

We use cookies to run the site and, with your consent, for analytics and to show ads. See our Cookie Policy.