ANALISIS NILAI KEARIFAN LOKAL MOTIF TENUN IKAT DI KECAMATAN LARANTUKA, KABUPATEN FLORES TIMUR
Abstract
Traditional woven ikat fabrics of the Lamaholot community in Larantuka District are not merely textile crafts, but visual communication media embodying local wisdom values and communal cultural memory. This study aims to describe the visual sign structures and analyze the local wisdom values embedded within five ikat motifs across five administrative villages in Larantuka District, East Flores Regency. A descriptive qualitative method was employed based on Ferdinand de Saussure's semiotic framework, examining the dyadic relationship between the signifier and the signified. Primary data were gathered from ten key informants, comprising traditional weavers and customary elders, through participant observation, in-depth interviews, and photographic documentation conducted from February to April 2026. Data analysis integrated qualitative condensation techniques with structural semiotic interpretation. The findings revealed five predominant ikat motifs containing essential local wisdom values: (1) the ula age motif reflecting transcendental religiosity and respect for women's dignity, (2) the senerut motif articulating cultural continuity and social unity, (3) the mata burung motif embodying moral vigilance and visionary leadership, (4) the nuru wale motif demonstrating perseverance and life blessing, and (5) the belah ketupat motif representing cosmic order and social harmony. ABSTRAK Kain tenun ikat tradisional masyarakat Lamaholot di Kecamatan Larantuka bukan sekadar karya seni kriya tekstil, melainkan media komunikasi visual yang merekam nilai kearifan lokal dan memori kebudayaan komunal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur tanda visual serta mengurai nilai kearifan lokal pada lima motif tenun ikat di lima kelurahan dan desa di Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis kerangka semiotika Ferdinand de Saussure yang membedah relasi antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Data primer dihimpun dari sepuluh informan kunci yang terdiri atas penenun tradisional dan tetua adat melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual pada Februari hingga April 2026. Analisis data dilakukan dengan memadukan teknik kondensasi data kualitatif dan interpretasi semiotika tanda visual. Hasil penelitian menunjukkan lima motif utama tenun ikat yang memuat nilai kearifan lokal: (1) motif ula age yang merefleksikan nilai religiositas transendental dan penghormatan terhadap martabat perempuan, (2) motif senerut yang mengartikulasikan nilai kesinambungan adat dan persatuan sosial, (3) motif mata burung yang mencerminkan nilai kewaspadaan moral dan kepemimpinan visioner, (4) motif nuru wale yang memuat nilai ketekunan ikhtiar dan keberkahan hidup, serta (5) motif belah ketupat yang merepresentasikan keteraturan kosmis dan keselarasan hubungan sosial.