ANALISIS KENDALA GURU DALAM IMPLEMENTASI LITERASI DIGITAL PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 5 MANDREHE
Abstract
ABSTRACT This study was motivated by the gap between the demands of digital literacy implementation in Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) learning and the actual conditions at UPTD SMP Negeri 5 Mandrehe, West Nias Regency. The study aimed to identify the challenges faced by PPKn teachers, examine the factors influencing these challenges, and describe the efforts undertaken to address them. A descriptive qualitative approach was employed, involving the principal, PPKn teacher, and students as informants. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings indicate that digital literacy implementation encountered challenges in three main areas: limited infrastructure and connectivity, teachers’ practical competence, and unequal access to digital devices among students. These conditions were associated with external factors, including limited facilities and geographical conditions, as well as internal factors related to teachers’ technical readiness and self-confidence. To address these challenges, the school and teachers implemented gradual facility procurement, peer mentoring, the use of school-provided internet access, offline learning materials, and alternative digital devices. The study concludes that strengthening digital literacy requires contextually adaptive strategies, continuous improvement of teacher competence, and consistent institutional support. ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari kesenjangan antara tuntutan penerapan literasi digital dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dengan kondisi faktual di UPTD SMP Negeri 5 Mandrehe, Kabupaten Nias Barat. Penelitian bertujuan mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru PPKn, mengkaji faktor yang memengaruhinya, serta mendeskripsikan upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan kepala sekolah, guru PPKn, dan siswa sebagai informan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi literasi digital menghadapi kendala pada tiga ranah utama, yaitu keterbatasan infrastruktur dan konektivitas, kompetensi praktis guru, serta ketidakmerataan akses perangkat digital siswa. Kondisi tersebut berkaitan dengan faktor eksternal berupa keterbatasan fasilitas dan kondisi geografis serta faktor internal berupa kesiapan teknis dan kepercayaan diri guru. Untuk merespons persoalan tersebut, sekolah dan guru menerapkan pengadaan fasilitas secara bertahap, pendampingan antarguru, pemanfaatan kuota internet sekolah, penyediaan bahan ajar offline, serta penggunaan perangkat alternatif. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan literasi digital memerlukan strategi adaptif yang disesuaikan dengan kondisi sekolah, peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan, dan dukungan kelembagaan yang konsisten.