Jul 2026· QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies· Vol 5, pp. 411-423· 0 citations· 12 references
Abstract
Artikel ini menganalisis secara komprehensif metodologi ijtihad kontemporer dalam pengembangan hukum zakat, wakaf, dan ekonomi Islam dengan pendekatan integratif antara tafsir dan hadis ahkam. Kajian ini dilatarbelakangi oleh dinamika ekonomi global modern yang ditandai dengan digitalisasi keuangan, perkembangan fintech syariah, serta kompleksitas instrumen ekonomi yang tidak sepenuhnya terakomodasi dalam kerangka fiqh klasik. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi metodologi ijtihad yang tidak hanya berbasis pada pendekatan tekstual, tetapi juga kontekstual dengan mempertimbangkan realitas sosial-ekonomi kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-yuridis dengan metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap literatur klasik (turats), jurnal nasional terindeks Sinta 2, serta jurnal internasional bereputasi (Scopus). Analisis dilakukan melalui kerangka ushul fiqh, maqāṣid al-syarī‘ah, dan hermeneutika hukum Islam untuk mengkaji bagaimana dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis ahkam dapat disintesis secara sistematis dalam menjawab persoalan ekonomi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ijtihad kontemporer memiliki peran strategis dalam mentransformasikan instrumen zakat dan wakaf menjadi lebih produktif dan adaptif, seperti dalam bentuk zakat digital, wakaf produktif, dan integrasi dengan sistem keuangan modern. Sintesis antara dalil naqli (Al-Qur’an dan hadis) dan pendekatan rasional menghasilkan fleksibilitas hukum Islam yang tetap berlandaskan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya dalam menjaga harta (ḥifẓ al-māl) dan mewujudkan keadilan sosial. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya tantangan metodologis yang signifikan, terutama terkait dengan disharmonisasi pendekatan ijtihad antar lembaga, potensi subjektivitas dalam penetapan hukum, serta ketegangan epistemologis antara pendekatan tekstualisme yang rigid dan kontekstualisme yang terlalu liberal. Oleh karena itu, diperlukan standarisasi metodologi ijtihad kontemporer yang berbasis pada integrasi antara turats klasik dan pendekatan multidisipliner modern agar hukum ekonomi Islam tetap otoritatif, relevan, dan aplikatif dalam menghadapi perkembangan zaman.
Artikel ini membahas relevansi ijtihad sebagai mekanisme penggalian hukum Islam dalam menghadapi perkembangan masyarakat modern yang terus berubah. Ijtihad merupakan upaya maksimal seorang mujtahid untuk menemukan ketentuan hukum syariat atas persoalan-persoalan yang belum secara eksplisit diatur dalam Al-Qur’an maupun Hadis. Di era modern, umat Islam menghadapi berbagai tantangan baru seperti kemajuan teknologi, rekayasa genetika, kecerdasan buatan, dan persoalan kontemporer lainnya yang membutuhkan jawaban hukum yang relevan. Artikel ini mengkaji konsep dasar ijtihad, faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan pendapat ulama, serta peran ijtihad dalam budaya, profesi, dan kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan menganalisis sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ijtihad tetap menjadi instrumen vital dalam hukum Islam yang memungkinkan adaptasi terhadap konteks kekinian tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasarnya. Implementasi nilai-nilai ijtihad dalam bidang pendidikan, keluarga, dan pekerjaan terbukti mampu mendorong berpikir kritis, profesionalisme, dan harmoni sosial.
Bina Prima Panggayuh, Ryan Rahardjo, Muhammad Sakha Ar-Rafi et al.· Jurnal Inovasi Global· 0 citations
Penelitian ini bertujuan menganalisis kompetensi guru dalam perspektif Al-Qur’an serta relevansinya terhadap pengembangan pendidikan Islam kontemporer. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memahami kompetensi guru tidak semata-mata sebagai kemampuan profesional dan pedagogis, tetapi juga sebagai kesatuan antara penguasaan ilmu, akhlak, keteladanan, dan tanggung jawab moral. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research. Data diperoleh melalui dokumentasi dan penelusuran sistematis terhadap Al-Qur’an, kitab tafsir, serta artikel jurnal dan literatur akademik yang relevan, dengan penekanan pada publikasi tahun 2020–2026. Analisis data dilakukan melalui tafsir tematik (maudhu’i) dan analisis isi kualitatif untuk mengidentifikasi, mengategorikan, dan mensintesiskan konsep kompetensi guru yang terkandung dalam sumber-sumber yang dikaji. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu kompetensi profesional berbasis penguasaan ilmu, amanah, dan tanggung jawab; kompetensi pedagogik yang berorientasi pada hikmah, kelembutan, dialog, dan pendekatan humanis; serta kompetensi kepribadian yang diwujudkan melalui integritas, akhlak mulia, keteladanan, kesabaran, dan tanggung jawab moral. Ketiga kompetensi tersebut bersifat integratif dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk sosok guru ideal. Penelitian menyimpulkan bahwa perspektif Al-Qur’an memberikan landasan konseptual yang komprehensif bagi pengembangan profesionalisme guru dalam pendidikan Islam. Temuan ini berimplikasi pada pengembangan pembinaan guru yang mengintegrasikan kompetensi keilmuan, pedagogis, dan akhlak, serta membuka peluang penelitian lapangan untuk menguji implementasinya dalam praktik pendidikan.
Aisyah Nur Hafifah, Zulfa Pebriani Fauziah, Yani Amalia Putri et al.· Jurnal QOSIM : Jurnal Pendid...· 0 citations
Krisis lingkungan global yang semakin serius mendorong perlunya respons keagamaan yang sistematis, salah satunya melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 86 Tahun 2023 tentang Hukum Pengendalian Perubahan Iklim Global. Namun, nilai-nilai ekoteologi dalam fatwa tersebut belum terintegrasi secara optimal ke dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dan madrasah. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi ekoteologi dalam Fatwa MUI melalui pendekatan analisis semantik, serta merumuskan strategi integrasinya ke dalam pembelajaran PAI berbasis proyek. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan jenis studi kepustakaan (library research), di mana data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dari buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima istilah kunci dalam fatwa, yaitu khālīfah, mīzān, fasād fī al-arḍ, iṣlāḥ, dan maqāṣid al-syarīʿah, mengalami pergeseran makna dari konsep statis menuju kerangka dinamis yang mencakup dimensi hukum, teologi, dan etika. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan Model PAI EcoPjBL, yaitu strategi integrasi ekoteologi ke dalam pembelajaran berbasis proyek yang terdiri atas tiga fase, yakni perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi refleksi. Model ini menghubungkan kompetensi inti PAI (Akidah, Akhlak, Fikih, dan Al-Qur’an-Hadis) dengan proyek nyata seperti audit jejak karbon, kampanye nol limbah, dan pemulihan ekosistem sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa analisis semantik merupakan fondasi epistemik yang penting untuk menerjemahkan fatwa lingkungan menjadi materi pembelajaran yang bermakna, sekaligus menjadi solusi atas kesenjangan antara otoritas normatif keagamaan dan praktik pendidikan formal. Penelitian lanjutan berbasis kuasi-eksperimen disarankan untuk menguji efektivitas model ini secara empiris di lapangan.
Ana Safitri, Arif Maulana, Khusnul Khotimah et al.· Jurnal QOSIM : Jurnal Pendid...· 0 citations
Tradisi Mome’ati merupakan ritual adat pembaiatan bagi remaja perempuan Muslim Gorontalo yang menandai peralihan menuju fase baligh yang terus dilestarikan secara institusional, namun pelestarian tersebut cenderung menekankan dimensi seremonial sehingga fungsi aslinya sebagai institusi pendidikan moral-religius berisiko tidak terwariskan. Kajian ini bertujuan menganalisis sejauh mana dan melalui mekanisme apa nilai serta makna dalam tradisi Mome’ati mengalami pergeseran dalam kondisi sosial kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi pustaka untuk rentang 2012–2026, dianalisis dengan teknik analisis isi kualitatif dan pembacaan hermeneutik-interpretatif. Kerangka wujud kebudayaan Koentjaraningrat digunakan sebagai kerangka utama dan dilengkapi tiga tesis tentang kondisi postmodern, yakni The Postmodern Condition (Lyotard), The Transformation of Intimacy (Giddens), dan Liquid Modernity (Bauman). Sebagai proposisi konseptual yang diturunkan secara deduktif dari teori, dan bukan sebagai temuan lapangan. Kajian ini mengajukan tesis disintegrasi internal tradisi: wujud artefak dan wujud aktivitas Mome’ati terpelihara dengan baik, sementara wujud sistem gagasan berisiko melemah melalui lima mekanisme, yaitu relativisasi nilai sakral, seremonialisasi adat, fragmentasi makna antargenerasi, komodifikasi budaya, dan pelemahan otoritas transmitter. Secara praktis, kajian ini merekomendasikan agar Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mewajibkan sesi pembekalan nilai pra-prosesi serta instrumen evaluasi pemahaman peserta pada setiap penyelenggaraan Mome’ati massal, dan agar lembaga adat menyusun panduan pengajaran baku bagi pemangku adat. Tesis ini terbuka untuk diuji melalui riset etnografis lanjutan.
Hanifah Wardatul Jannah Dilo· Muttaqien Indonesian Journal...· 0 citations
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola asuh Islami dalam menghadapi tekanan ekonomi dengan meninjau kisah Luqman Al-Hakim sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 13–19. Pola asuh Islami dipandang sebagai strategi adaptif yang mampu menjaga ketahanan keluarga meskipun berada dalam keterbatasan finansial. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dengan memanfaatkan sumber primer berupa tafsir Al-Mishbah dan Al-Maraghi, serta sumber sekunder berupa artikel, jurnal, dan karya ilmiah terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Luqman Al-Hakim menekankan pendidikan aqidah, akhlak, ibadah, serta kesabaran sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Nilai-nilai tauhid, syukur, dan kesederhanaan menjadi penyangga terhadap tekanan ekonomi, sehingga anak tetap memiliki pegangan hidup yang kuat tanpa bergantung pada materi. Analisis kontekstual memperlihatkan bahwa pola asuh Islami relevan diterapkan dalam keluarga modern, karena mampu meningkatkan ketahanan emosional dan spiritual anak sekaligus menjaga keharmonisan keluarga. Dengan demikian, pola asuh Islami tidak hanya berfungsi sebagai metode pendidikan, tetapi juga sebagai solusi menghadapi tantangan ekonomi keluarga.
Didin Sirojudin, Sonia Isna Suratin, A. Fatmawati et al.· Journal of Creativity· 0 citations
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna kebaikan dalam konsep amar ma'ruf nahi munkar, mengeksplorasi paparan dalam kerangka Teologi Islam Rahmatan Lil Alamin (TIRA), serta merekonstruksi pemahamannya agar lebih humanis dan kontekstual dalam menghadapi dinamika masyarakat kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus reflektif-konseptual. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen terhadap aktor dakwah dan pendidikan Islam, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik berbasis kerangka TIRA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna kebaikan dalam amar ma'ruf nahi munkar mengalami pergeseran dari pendekatan normatif-legalistik menuju pendekatan humanis yang menekankan rahmah, keadilan, inklusivitas, dan kemaslahatan. Selain itu, ditemukan adanya ketegangan antara interpretasi tekstual dan kontekstual dalam praktik dakwah, terutama di ruang digital yang mempercepat fragmentasi makna keagamaan. Penelitian ini juga menemukan bahwa Teologi Islam Rahmatan Lil Alamin (TIRA) berfungsi sebagai kerangka integratif yang mampu menjembatani teks, konteks, dan realitas sosial dalam memahami kebaikan secara lebih utuh. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa amar ma'ruf nahi munkar perlu direkonstruksi sebagai praktik sosial yang dialogis dan berbasis kemaslahatan agar relevan dengan tantangan masyarakat modern yang plural dan terdigitalisasi.
Nanang Fachrurrozi, Abdul Syukur· Nuris Journal of Education a...· 0 citations