Daun miana (Coleus scutellarioides (L.) Benth.) dikenal memiliki banyak kandungan senyawa metabolit sekunder, termasuk flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar sediaan herbal. Penelitian ini dibuat untuk memformulasikan ekstrak etanol daun miana ke dalam bentuk sediaan sirup sekaligus mengevaluasi sifat fisiknya. Ekstrak didapat melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, selanjutnya diformulasikan ke dalam empat tingkat konsentrasi, yakni F0 (0%), F1 (6%), F2 (8%), dan F3 (10%). Evaluasi fisik sediaan mencakup uji organoleptik, pH, homogenitas, kejernihan, viskositas, waktu tuang, volume terpindahkan, dan massa jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat formula sirup ekstrak etanol daun miana berhasil memenuhi seluruh persyaratan evaluasi fisik yang ditetapkan. Nilai pH sediaan berada pada rentang 4,62–4,78, sementara viskositas menunjukkan tren peningkatan seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak yang digunakan. Waktu tuang tercatat memenuhi persyaratan, volume terpindahkan sesuai dengan ketentuan Farmakope Indonesia, dan massa jenis pada seluruh formula tercatat lebih dari 1,2 g/mL. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun miana sudah berhasil di formulasikan menjadi sebuah sediaan sirup dengan sifat fisik yang memenuhi standar, sehingga membuka peluang pengembangannya lebih lanjut sebagai sediaan herbal oral.
Daun serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku sediaan herbal. Pengembangan ekstrak menjadi sediaan sirup memerlukan evaluasi mutu fisik untuk memastikan karakteristik sediaan memenuhi persyaratan farmasetika. Penelitian in...
Latar Belakang: Daun kemangi (Ocimum sanctum L.) mengandung eugenol yang berpotensi sebagai akarisida alami untuk mengatasi skabies. Tujuan: Memformulasi ekstrak etanol daun kemangi menjadi sediaan krim, mengevaluasi mutu fisiknya, serta menguji efektivitas antiskabiesnya pada kelinci dibandingkan dengan Permetrin 5%....
M. Widiati, Siwi Hastuti, Septian Maulid Wicahyo· Galen· 0 citations
Infeksi kulit yang bermula dari luka kecil dapat memicu invasi bakteri seperti Staphylococcus aureus sehingga diperlukan pengobatan topikal yang efektif. Daun binahong (Anredera cordifolia) mengandung flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan memformulasikan e...
R. Febriansyah, Tatiana Siska Wardani, Anna Fitriawati· Borneo Nursing Journal· 0 citations
Terapi topikal yang mengandung antioksidan alami diperlukan karena paparan radikal bebas dari radiasi UV dapat menyebabkan stres oksidatif, yang menyebabkan penuaan dini dan kerusakan kulit. Kacang gude (Cajanus cajan L. Huth) diketahui mengandung senyawa bioaktif, terutama flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan...
: Buah senduduk bulu (Miconia crenata (Vahl) Michelang) mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, dan fenolik yang berpotensi dijadikan bahan aktif pada sediaan topikal. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi ekstrak buah senduduk bulu menjadi gel sekaligus menilai sifat fisik serta tingkat...
Muhamad Deni Saputra, Luky Dharmayanti, Dewi Winni Fauziah et al.· Jurnal Kesehatan Farmasi Nus...· 0 citations
Luka bakar merupakan cedera pada jaringan kulit akibat paparan panas, bahan kimia, listrik, maupun radiasi yang memerlukan penanganan yang tepat untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah terjadinya infeksi. Daun bidara (Ziziphus Mauritiana L.) mengadung senyawa metabolit, sekunder, seperti flavonoid, alkaloid,...
Romio Carlos Lopo Dos Reis, Siwi Hastuti, Septian Maulid Wicahyo· Borneo Nursing Journal· 0 citations
We use cookies to run the site and, with your consent, for analytics and to show ads.
See our Cookie Policy.